Harga CPO Diramal Bakal Tetap Tinggi di 2021!

Usai ambles pada perdagangan Senin kemarin (10/5), harga komoditas minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) Malaysia cenderung stagnan. Tak ada pergerakan yang berarti pada harga CPO yang aktif ditransaksikan di Bursa Malaysia Derivatif Exchange.

Harga kontrak CPO pengiriman Juli saat ini berada di RM 4.366/ton. Sebelumnya harga minyak nabati ini sempat tembus RM 4.400/ton dan merupakan harga tertinggi dalam 13 tahun terakhir.

Kenaikan harga yang signifikan diakibatkan oleh ekspektasi ketatnya pasokan di negara-negara produsen seperti Indonesia dan Malaysia. Namun baru-baru ini Dewan Minyak Sawit Malaysia (MPOB) melaporkan stok bulan April naik 7,1% dibanding bulan sebelumnya menjadi 1,55 juta ton.

Di saat yang sama produksi CPO juga naik 7% dibanding bulan sebelumnya menjadi 1,52 juta ton. Ekspor minyak sawit naik 12,6% menjadi 1,34 juta ton di bulan April jika mengacu pada data MPOB.

Hal ini berbeda dengan eskpektasi analis yang disurvei Reuters. Stok diperkirakan turun 0,27% menjadi 1,44 juta ton. Produksi naik 8,9% menjadi 1,55 juta ton dan ekspor meningkat 10% menjadi 1,3 juta ton.

Bagaimanapun juga kenaikan harga minyak sawit juga sudah sangat tinggi. Naiknya harga yang kencang akan memberikan berbagai konsekuensi. Mulai dari pergeseran permintaan maupun kurang ekonomisnya untuk beberapa proyek seperti program biodiesel yang tengah digenjot di negara-negara produsen.

Namun pelaku pasar tetap mengantisipasi ketatnya pasokan yang tercermin dari rendahnya stok yang bakal mendongkrak harga hingga paruh pertama tahun ini sebelum produksi kembali pulih pada paruh kedua.

MIDF Research mempertahankan proyeksi positifnya di sektor perkebunan dengan perkiraan harga CPO sebesar RM 3.000 per ton untuk tahun ini. Dalam catatannya, dikatakan bahwa lanskap pasar CPO yang ada akan menyebabkan kenaikan harga yang kuat, karena diyakini tingkat persediaan minyak sawit yang lemah di Malaysia.

MIDF mengantisipasi ketatnya pasokan kedelai yang akan memicu penguatan harga kedelai, yang pada akhirnya akan mendorong harga jual CPO lebih tinggi.

“Kami memperkirakan tingkat persediaan akan tetap di bawah level dua juta mengingat periode produksi yang lebih lambat. Kami juga yakin situasi ketatnya pasokan minyak sawit kemungkinan akan tetap ada hingga kuartal kedua tahun keuangan 2021 (2QFY21), mengingat output yang lebih lemah.” tulis MIDF sebagaimana diwartakan Reuters.

“Meskipun demikian, kami memperkirakan produksi akan pulih pada paruh kedua tahun keuangan 2021 (2HFY21), meskipun di bawah potensi, mengingat ketergantungan Malaysia yang tinggi pada pekerja asing,” lanjut MIDF.

Terkait permintaan ekspor, lembaga penelitian tersebut mengharapkan pemulihan didukung oleh kegiatan ekonomi yang positif secara global dan permintaan ekspor yang lebih tinggi dari China karena minyak sawit  diizinkan masuk ke negara tersebut setelah disetujuinya standar baru untuk minyak sawit premium.

MIDF mencatat bahwa permintaan ekspor yang lebih tinggi dari Arab Saudi karena Malaysia telah mencapai kesepakatan untuk mengirimkan minyak sawit ke negara tersebut.

Di pasar berjangka CPO, readyviewed harga telah naik ke level tertinggi dalam lebih dari 10 tahun menjadi di atas RM 4.000 per ton di tengah sentimen pasar yang kuat dan reli di pasar minyak kedelai.

Namun, perusahaan riset lain yakni Kenanga Research, telah mempertahankan peringkat ‘netral’ di sektor perkebunan dengan perkiraan harga CPO 2021 yang tidak berubah tetapi yakin puncaknya akan segera terjadi.

Pada bulan Mei, Kenanga Research memproyeksikan pertumbuhan produksi meningkat sebesar 4,6% secara bulanan. Hal ini karena Malaysia Timur melanjutkan tren pertumbuhannya dan ekspor meningkat sebesar 19,6% menjelang musim perayaan Islam dan potensi kegiatan restocking dari Cina dan India.

“Kami memperkirakan total permintaan melebihi total pasokan yang mengarah ke stok akhir yang lebih rendah sebesar 1,46 juta ton setara dengan penurunan 5,6% juta ton,” katanya.

Sumber: www.cnbcindonesia.com