Tingkat Penggunaan Pupuk Kimia Yang Lebih Tinggi Pada Perkebunan Kelapa Sawit

MITOS 2-03 Perkebunan kelapa sawit menggunakan pupuk kimia (anorganik) yang lebih tinggi dari perkebunan penghasil minyak nabati lainnya, dan menghasilkan residu (polusi) yang mencemari tanah dan air yang lebih tinggi.

FAKTA Kegiatan pertanian pada umumnya menggunakan pupuk kimia seperti pupuk nitrogen, fosfor dan kalium, serta menggunakan pestisida. Data FAO (2013) menunjukkan tingkat penggunaan pupuk di setiap negara/kawasan (Tabel 2.3).

Secara umum, negara-negara yang paling tinggi menggunakan pupuk untuk pertaniannya adalah negara-negara kawasan Eropa (yang juga merupakan produsen minyak bunga matahari, minyak rapeseed dan minyak kedelai). Penggunaan pupuk yang tinggi, umumnya berkolerasi dengan polusi residu pupuk, baik di tanah maupun di air.

Konsumsi pupuk setiap hektar lahan pertanian Indonesia termasuk didalamnya perkebunan kelapa sawit masih relatif rendah. Penggunaan pupuk yang relatif rendah tersebut berarti juga polusi residu pupuk lebih rendah

Untuk membandingkan minyak nabati mana yang paling banyak menggunakan pupuk sehingga menghasilkan polusi air dan tanah yang lebih besar dapat dihitung atas dasar yang sama yakni konsumsi pupuk dan polusi tanah dan air (residu) untuk menghasilkan setiap ton minyak nabati (Tabel 2.4).

Berdasarkan data tersebut di atas tampak bahwa minyak kedelai adalah paling tinggi menggunakan pupuk N, P, K, pestisida maupun energi fosil. Urutan kedua adalah minyak rapeseed. Akibatnya polusi residu pupuk dan pestisida di dalam tanah dan air juga lebih tinggi pada perkebunan penghasil minyak kedelai dan minyak rapeseed. Sedangkan minyak sawit menggunakan pupuk, pestisida dan energi fosil yang relatif rendah sehingga polusi residu ke dalam tanah dan air di perkebunan kelapa sawit juga relatif rendah.

Sumber : Bab 2 | Mitos dan Fakta : Minyak Sawit dalam Persaingan Minyak Nabati Global


2019 © GAPKI Sumatera Utara (Sumut) | Palm Oil Association of North Sumatra