Dunia Lebih Menyukai Minyak Kedelai,Repeseed,Bunga Matahari bukan Minyak Sawit

Salah satu isu kampanye negatif/hitam yang sering digunakan para pesaing minyak sawit adalah keterkaitan antara minyak sawit dengan masalah gizi dan kesehatan. Tuduhan bahwa minyak sawit tidak baik untuk kesehatan sudah mulai dilakukan pesaing minyak sawit sejak akhir tahun 1970-an.

Berbagai riset gizi dan kesehatan terkait dengan konsumsi minyak sawit juga sudah banyak dilakukan oleh berbagai ahli baik di Indonesia, Malaysia maupun di negara lain. Riset-riset tersebut bukan hanya sekedar memberikan empirical evidence untuk counter tuduhan negatif terhadap sawit, tapi juga untuk memberikan informasi yang lebih luas kepada masyarakat konsumen agar keunggulan gizi yang dimiliki oleh minyak sawit dapat dinikmati konsumen.

Dalam bab ini persepsi-persepsi, opini, bahkan mitos yang terkait dengan aspek gizi dan kesehatan minyak sawit akan didiskusikan dengan menghadirkan bukti-bukti empiris dari penelitian-penelitian di berbagai negara. Dialektika antara mitos dengan emperical evidence aspek gizi dan kesehatan minyak sawit makin penting dengan makin kuatnya perhatian konsumen khususnya di negara-negara maju pada atribut gizi dan kesehatan minyak sawit.

MITOS 8-01 Masyarakat dunia masih lebih menyenangi minyak kedelai, minyak rapeseed, minyak bunga matahari dan bukan minyak sawit.

FAKTA Minyak sawit merupakan minyak makan (edible oil) yang sudah ribuan tahun dikonsumsi oleh masyarakat (Cottrell 1991). Baik sebagai minyak goreng (cooking oil), margarin, shortening maupun sebagai minyak nabati industri pangan. Minyak sawit juga merupakan salah satu dari 17 jenis minyak nabati yang direkomendasikan sebagai bahan pangan oleh FAO dan WHO (Codex Alimentarius Commission, 1983).

Selera terungkap (revealed preferences) masyarakat dunia dapat dilihat dari komposisi konsumsi minyak nabati global. Setidaknya dalam periode 1965-2016 telah terjadi perubahan pola konsumsi minyak nabati global. Pangsa minyak sawit dalam konsumsi 4 minyak nabati utama dunia meningkat cepat dari 22 persen (1980) menjadi 39 persen (2016). Sebaliknya pangsa minyak kedelai turun dari 55 persen menjadi 33 persen pada periode yang sama (Gambar 8.1).

Perubahan selera konsumsi minyak nabati dunia tersebut, menunjukkan bahwa konsumsi minyak nabati masyarakat dunia telah bergeser dari dominasi minyak kedelai kepada minyak sawit. Dengan kata lain, masyarakat dunia lebih menyenangi minyak sawit daripada minyak nabati yang lain.

Sumber : Bab 8| Mitos dan Fakta : Minyak Sawit dan Gizi Kesehatan


2019 © GAPKI Sumatera Utara (Sumut) | Palm Oil Association of North Sumatra