Dampak yang dirasakan Indonesia saat Malaysia mengambil Keputusan Lockdown

Produsen minyak sawit terbesar kedua di dunia, Malaysia telah menghentikan aktivitas perkebunan kelapa sawit selama dua minggu ke depan. Meskipun demikian, industri kelapa sawit lokal yang memproses minyak sawit mentah menjadi produk makanan, pembersih, dan biodiesel masih diizinkan untuk beroperasi dengan pengawasan yang ketat.

Lockdown ini dimaksudkan untuk meminimalisasi jumlah kasus infeksi Covid-19 yang melonjak drastis di Negeri Jiran tersebut.

Dengan adanya penghentian aktivitas selama dua minggu tersebut, tandan buah segar (TBS) yang seharusnya dipanen tepat waktu menjadi busuk sehingga berdampak pada produksi dan stok minyak sawit yang semakin menipis.

Tidak hanya itu, petani selaku aktor penting dalam kegiatan budi daya kelapa sawit tersebut juga akan terancam karena berkurangnya pendapatan yang diperoleh. Apabila kondisi ini dibiarkan semakin larut, maka tidak hanya stok minyak sawit yang akan terkuras, tetapi juga permintaan ekspor yang tidak mampu terpenuhi.

Kepala Riset bidang Agrikultur CIMB Investment Bank, Ivy Ng mengatakan bahwa produksi minyak sawit Malaysia akan berkurang sekitar 708.500 ton dan stok akan turun menjadi 1 juta ton pada akhir Maret jika perkebunan tidak diizinkan untuk beroperasi.

Sumber : wartaekonomi.co.id

Judul Asli : Lockdown Malaysia, Apa Dampak bagi Sawit Indonesia?


2019 © GAPKI Sumatera Utara (Sumut) | Palm Oil Association of North Sumatra