September 17, 2021

GAPKI Sumatera Utara (Sumut)

Indonesian Palm Oil Association North Sumatra Chapter

Minyak Sawit Berkelanjutan Terus Maju, Memberikan Dampak Positif

Sampai saat ini kebutuhan minyak sawit global tercatat terus meningkat, ini seiring dengan peningkatan populasi dan tingkat ekonomi masyarakat yang terus melonjak. Hanya saja kini beberapa pasar minyak sawit menuntut adanya perbaikan proses dalam budidaya perkebunan kelapa sawit, yang lebih baik dalam upaya melindungi lingkungan.

Diungkapkan Tiur Rumondang, Direktur Assurance RSPO sekaligus Plt Deputi Direktur RSPO Indonesia,maka itu RSPO hadir dalam upaya meyakinkan pasar, bahwa proses budidaya sektor perkebunan kelapa sawit telah melampaui proses ketat dalam upayanya tidak merusak hutan dan lingkungan.

Lebih lanjut tutur Tiur, banyak pihak terus mengajukan pertanyaan yang hampir seragam yakni mengapa RSPO harus dibentuk? Menjawab itu, telah banyak sekali opini, riset dan studi yang mencatat pengembangan perkebunan kelapa sawit bisa memunculkan dampak negatif, tetapi jika budidaya kelapa sawit dilakukan dengan baik maka bisa mengurangi dampak negatif tersebut dengan pengelolaan yang berkelanjutan terhadap operasi perkebunan kelapa sawit sambil menjaga stabilitas jasa lingkungan yang diperlukan.

Sayangnya, masih banyak pihak yang hanya melihat dari sisi negatif perkebunan sawit bahkan di antara pengguna dan stakeholder minyak sawit dunia. Padahal dampak positif komoditas ini dapat dirasakan secara langsung termasuk, jika dilakukan dalam pengelolaan yang berkelanjutan, membaiknya perlindungan lingkungan, keanekaragaman hayati dan dampak sosial-ekonomi.

Secara umum, dampak global yang bisa diukur secara nyata bisa merujuk dari data yang dimiliki RSPO, misalnya sampai saat ini luas lahan yang telah bersertifikat RSPO seluas 4,4 juta ha, beranggotakan 4.971 anggota berasal dari 7 kategori keanggotaan, perkebunan, LSM sosial & lingkungan, Bank, consumer goods manufacturer, retailer dan processor.Serta diikuti oleh sebanyak 98 negara, dan telah menghasilkan minyak sawit berkelanjutan bersertifikat (CSPO) sebanyak 17,21 juta ton, sejumlah 3.321 perusahaan dengan sertifikat rantai pasok menjadi anggota, serta menghasilkan 19% minyak sawit yang berkelanjutan dari total produksi minyak sawit global.

“Kami akan terus bergerak maju dan angka-angka tersebut adalah ukuran yang paling mudah digunakan,  apakah kita progresif, dan seberapa besar itu berdampak kepada industri kelapa sawit, dan ini adalah cara yang fair dalam menghitung dampak, baik dari sisi dampak lingkungan dan pengembangan yang tidak bisa kita hindari, ” kata Tiur dalam diskusi online yang dihadiri InfoSAWIT awal Maret 2021 lalu.

Tiur menjelaskan, secara garis besar prinsip dan kriteria yang dibangun RSPO merujuk pada tiga tujuan yakni, sasaran dampak pada Kesejahteraan, sasaran dampak Masyarakat, dan sasaran dampak Planet. Dengan tiga tujuan ini harapannya, masyarakat yang tinggal di sekitar perkebunan kelapa sawit dapat hidup sejahtera, sehingga perkebunan kelapa sawit memiliki dampak positif, kendati dampak negatif tidak bisa dihindari, tetapi kata Tiur, setidaknya dampak negatif itu bisa kendalikan, atau bahkan ditiadakan.

Hingga saat ini skema minyak sawit berkelanjutan yang diadopsi pelaku sawit di Indonesia tidak hanya berasal dari RSPO tetapi juga ada dari Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO), hanya saja skema ISPO terbatas pada areal perkebunan dan belum menyentuh hingga rantai pasok, sehingga standar ini belum dapat digunakan untuk industri, kendati saat ini kabarnya sedang dalam proses pembuatan standar ISPO untuk rantai pasok dilakukan instansi pemerintah terkait. “Lantaran jika tidak masuk sampai rantai pasok industri, maka kita tidak tahu siapa saja aktor dari semua itu hingga ke lapangan,” kata Tiur.

Masih merujuk pada data RSPO, terdapat 5 negara terbesar pemegang sertifikat RSPO diantaranya pertama, Indonesia tercatat memproduksi CSPO sebanyak 56% dari total produksi CSPO di didunia, dengan areal seluas 51% dari total areal tersertifikat RSPO.

Lantas disusul Malaysia dengan produksi CSPO sejumlah 28% dari total produksi CSPO di dunia, dengan areal seluas 29% dari total areal tersertifikat RSPO. “Adanya perbedaan antara persentase produksi dan areal, ini menunjukkan tinggi rendahnya produktivitas perkebunan kelapa sawit di suatu negara,” kata Tiur. (*)

Sumber: www.infosawit.com

©2021 Indonesian Palm Oil Association, North Sumatra Chapter. All rights reserved.