September 17, 2021

GAPKI Sumatera Utara (Sumut)

Indonesian Palm Oil Association North Sumatra Chapter

Minyak Nabati Masih Tetap Unggul Dalam Memenuhi Kebutuhan Minyak Nabati di Masa Yang Akan Datang

MITOS 2-08 Untuk memenuhi kebutuhan minyak nabati global di masa yang akan datang lebih baik dipenuhi dari minyak kedelai, rapeseed, bunga matahari. Oleh karena itu, ekspansi perkebunan kelapa sawit sebaiknya dihentikan.
FAKTA Untuk memperkirakan kebutuhan minyak nabati global ke depan diperlukan perkiraan jumlah penduduk dunia dan konsumsi per kapita minyak nabati dunia menuju 2050. Untuk proyeksi populasi penduduk dunia digunakan data proyeksi medium yang dikeluarkan UNPD yakni penduduk dunia tahun 2050 akan mencapai 9,2 miliar orang.
Proyeksi konsumsi per kapita minyak minyak nabati dunia 2050 diperagakan dalam tiga skenario berikut: Skenario pertama, kebutuhan didasarkan pada rekomendasi gizi FAO (1994) edible use dan non edible use (di luar biofuel) yakni 21 kg/kapita/tahun.
Skenario kedua, diasumsikan konsumsi minyak nabati dunia (pangan dan non pangan, selain biofuel) mengikuti proyeksi rataan konsumsi minyak nabati India dan China, yakni 25 kg/kapita/tahun pada tahun 2050. Namun skenario pertama dan kedua tersebut kurang realistis karena negara maju (USA dan Eropa) konsumsinya tahun 2008 sudah lebih dari 37 kg/kapita/tahun. Tentu masyarakat negara maju tidak bersedia menurunkan konsumsinya/kesejahteraannya.
Dan skenario ketiga, diasumsikan seluruh negara dunia akan mencapai rata-rata konsumsi minyak nabati (pangan dan non pangan, selain biofuel) negara Eropa dan USA tahun 2008 yakni 37 kg/kapita/tahun pada tahun 2050. Skenario ketiga ini mengasumsikan negara-negara maju tersebut tidak lagi menambah konsumsi minyak nabatinya menuju 2050.
Dengan skenario di atas, maka kebutuhan minyak nabati dunia tahun 2050 adalah sebagaimana disajikan pada Tabel 2.6. Tambahan produksi minyak nabati dunia menuju 2050 berkisar antara 24-170 juta ton. Menuju tahun 2050 diasumsikan produksi minyak nabati lain (selain minyak kedelai dan minyak sawit) tidak mungkin lagi ditingkatkan dari produksi tahun 2014 (produksi tetap) sehingga tambahan konsumsi minyak nabati dunia dipenuhi dari minyak kedelai dan minyak sawit.

Peningkatan produksi minyak kedelai khususnya melalui perluasan areal masih mungkin terjadi di kawasan Amerika Selatan sebagaimana terjadi dalam sepuluh tahun terakhir. Demikian juga perluasan areal kebun sawit masih mungkin dilakukan di Indonesia maupun di kawasan Afrika Tengah.
Pertanyaannya adalah untuk memenuhi tambahan kebutuhan minyak nabati tersebut, apakah masyarakat dunia memilih meningkatkan produksi minyak kedelai atau minyak sawit? Jika masyarakat dunia memilih cara pemenuhan tambahan minyak nabati menuju 2050 dari peningkatan produksi minyak kedelai maka diperlukan tambahan areal baru kebun kedelai dunia seluas 340 juta hektar (dengan asumsi produktivitas 0,5 ton minyak/hektar). Hal ini berarti masyarakat dunia akan kehilangan hutan (deforestasi) seluas 340 juta hektar di Amerika Selatan.
Jika masyarakat dunia memilih pemenuhan tambahan kebutuhan minyak nabati dunia menuju 2050 dari minyak sawit, maka ekspansi kebun sawit (tambahan) yang diperlukan hanya cukup seluas 34 juta hektar (asumsi produktivitas 5 ton minyak/hektar).
Dengan kata lain, pemenuhan tambahan kebutuhan minyak nabati dunia menuju tahun 2050 melalui ekspansi kebun sawit jauh lebih menghemat deforestasi (hanya 34 juta hektar) dibandingkan dengan melalui ekspansi kebun kedelai (340 juta hektar). Ekspansi kebun sawit dunia jauh lebih menguntungkan bagi dunia daripada ekspansi kebun kedelai. Bahkan ekspansi kebun sawit dapat menghindari deforestasi global yang lebih besar khususnya di Amerika Selatan.
Sumber : Bab 2 Mitos dan Fakta : Minyak Sawit dalam Persaingan Minyak Nabati Global

©2021 Indonesian Palm Oil Association, North Sumatra Chapter. All rights reserved.